Senin, 26 Januari 2015

KENAL KAMU


Lucunya, ketika kuingat setiap masa demi masa, kamu yang tak pernah kukira dapat kukenal sedekat itu sebelumnnya, seorang pria dengan seragam putih abu abumu, melaju dengan birunya sepeda motormu tak kusangka secepat itu melesat bak pembalap internasional menerobos setiap lawan demi lawan hingga sampai tepat di ujung garis yang bernamakan finish, tepat diujung ruang yang kusebut hati.

Entah, bagaimana bisa kujelaskan awal perkenalan kita, yang kuanggap sebagai suatu kejadian konyol, yang mungkin sudah jauh kamu lupakan dan enggan untukmu jadikan kenangan. Facebook, tempat sebagian masyarakat kini menganggapnya kotak suara, tempat mereka mencurahkan segala cerita, lara, rasa, dan bahagia.Tempat awalku mengenalmu, bersamamu, lalu berlalu tanpa penah bersatu.

Berawal dari ketidaksengajaanku, memberi satu jempol pada satu status facebookmu, dan berlanjut pada status keduamu. Langsung saja kamu luncurkan satu pesan dalam akunku.“Ngelike mulu, komenlah sekali kali” Ucapmu, Memancingku untuk dapat lebih bercengkrama dalam obrolan singkat dalam statusmu. Tak butuh waktu lama untuk kita saling melempar pesan, agaknya kamu mulai lebih ingin mendekat dalam pesan singkat yang selanjutnya sering kamu lontarkan lewat ponselmu.

Sejak itu aku mulai mengenalmu, dikelas dua belas, tepat disamping kelasku, aku mulai memperhatikan seperti apasosok dirimu, yang dua tahun sebelumnnya tak pernah kugubris keberadaanya walau kita telah berada disatu lingkup yang sama.Kamu yang selalu kunanti kedatangannya ketika lonceng telah berbunyi dibalik jendela kelasku, sepenggal kepalamu terlihat berjalan berlalu menuju kelas di ujung gedung itu.

Kita seketika jadi dua kepala manusia yang saling memperhatikan, tidakkah sedikit berlebihan? kurasa tidak. Yap, kita semakin intens dalam berinteraksi, walau kurasa hanya lewat kata, tanpa tatapan muka atau obrolan nyata, hadirmu cukup menyejukkan. Tiap hari pagi, petang, dan malam selalu kunanti deringtanda pesan dalam handphone ku berbunyi, tentunya tak lain hanya darimu. 

Aku yang saat itu tak punyai alasan untuk mengelak atau mencengah seseorang sepertimu mengisi segala kekosongan hariku, tak pernah ada alasan. Kamu hadir begitu saja, ajaibnya kamu yang dalam singkat kukenal bisa sedemikian rupa membuatku lupa akan luka, membuatku bangkit dari sakit, dan buatku berpaling dari masa lalu yang ternyata terus membelenggu.

Pesan singkatmu tak bisa dibilang manis dan tak juga puitis tapi entah mengapa dapat menghipnotis. Menghipnotisku untuk selalu merindu singkatnya pesanmu, kakunya senyummu, dan dinginnya tatapanmu, sungguh kurindu. Tak cukup sampai disitu dilain tempat, lain kesempatan kamu pun dapat mencuri perhatianku, lewat akun aktif twittermu aku selalu memperhatikanmu, semacam seorang fans yang kerap memantau kegiatan serta aktivitasmu.

KAMU, Pria penyuka club sepak bola berliga inggris dan bisa dibilang fans fanatic sejati club yang selalu kamu seru serukan dalam akun twittermu “blues’blues’dan blues”. Sudah tak perlu diperjelas lagi, semua orangpun pasti sudah tau julukan itu. Mungkin hanya akulah satu satunya manusia yang baru mengetahui adanya club tersebut, Ya entahlah, aku memang wanita yang bisa dibilang tak mengerti tentang dunia sepak bola, jangankan Negara seberang sana Negara tanah airku tercinta pun, aku hanya tau sebagian.




Baik, catatan berikutnya KAMU seorang pria yang bisa kusebut “Freakly Boy” pada saat itu mungkin karena usia kita baru dikategorikan menginjak dewasa tak ada yang terlalu salah dengan sebutan itu. Awal perkenalan kita tak kusebutkan kamu memasuki karakter golongan apa atau species manusia macam apa, Haha. Aku pun tak mengerti kamu sesosok pria semacam apa.

Kamu pria yang terlihat serius pada kalanya, cuek pada kadarnya, konyol pada takarannya, tapi satu waktu jadi pria penggombal pada umumnnya namun dengan khasmu yang tetap terlihat cool, “sok cool” mungkin lebih tepatnya, Haha. Tentunya tak ada wanita yang tak senang diperlakukan dengan istimewa, entah akupun tak tau aku wanita keberapa, aku tak memperdulikannya.Bahkan patutnya aku tak terlalu menggangapnya special, kita hanya baru sebatas mengenal.

Faktanya dalam pertemuan nyatannya kita seperti duapasang mata yang terasing, mengatung dalam diam menggantung dalam tatap dan berakhir dengan sebuah senyum tipis medatar melesat lewat begitu saja.Namun dalam keramaian aku mematung beku dan kamu membisu kaku.Entah benarkah adanya pendeskripsianku, kebisingan hanya dapat kupandang rancu. Gemingan apa yang terjadi didalamnya, mana tahu.

Tiap kali bertemu kita layaknya dua orang yang tak saling mengenal, namun dalam maya kita seringkali bercengkrama.Tiap siang, sepulang sekolah aku yang menuju rumah mengendarai kendaraan umum pun disela sela perjalanan atau sesampainnya dirumah selalu mengecek ponselku untuk sekedar tahu apakah ada satu pesanmu muncul disana. Dan benar “Woy” kadang sesingkat itulah pesanmu menyapa, dan aku hanya tertawa, ternyata aku suka.

Satu kata tak bermakna seperti itu pun, dapat buatku selalu menunggunya? Haha, aku pun tak tau kenapa aku begitu menanti komunikasi terjadi antara kita.Kita lalu bercengkrama menghabiskan siang dan malam dengan saling bertukar pesan, tak jarang keakraban layaknya sahabat dekat terjadi didalamnnya.Gelak canda tawa sedikit menghiasi pembicaraan kita.

                                                                            ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar