Lucunya, ketika kuingat
setiap masa demi masa, kamu yang tak pernah kukira dapat kukenal sedekat itu
sebelumnnya, seorang pria dengan seragam putih abu abumu, melaju dengan birunya
sepeda motormu tak kusangka secepat itu melesat bak pembalap internasional
menerobos setiap lawan demi lawan hingga sampai tepat di ujung garis yang
bernamakan finish, tepat diujung ruang yang kusebut hati.
Entah, bagaimana bisa
kujelaskan awal perkenalan kita, yang kuanggap sebagai suatu kejadian konyol,
yang mungkin sudah jauh kamu lupakan dan enggan untukmu jadikan kenangan.
Facebook, tempat sebagian masyarakat kini menganggapnya kotak suara, tempat mereka
mencurahkan segala cerita, lara, rasa, dan bahagia.Tempat awalku mengenalmu,
bersamamu, lalu berlalu tanpa penah bersatu.
Berawal dari
ketidaksengajaanku, memberi satu jempol pada satu status facebookmu, dan
berlanjut pada status keduamu. Langsung saja kamu luncurkan satu pesan dalam
akunku.“Ngelike mulu, komenlah sekali kali” Ucapmu, Memancingku untuk dapat
lebih bercengkrama dalam obrolan singkat dalam statusmu. Tak butuh waktu lama
untuk kita saling melempar pesan, agaknya kamu mulai lebih ingin mendekat dalam
pesan singkat yang selanjutnya sering kamu lontarkan lewat ponselmu.
Sejak itu aku mulai
mengenalmu, dikelas dua belas, tepat disamping kelasku, aku mulai memperhatikan
seperti apasosok dirimu, yang dua tahun sebelumnnya tak pernah kugubris
keberadaanya walau kita telah berada disatu lingkup yang sama.Kamu yang selalu
kunanti kedatangannya ketika lonceng telah berbunyi dibalik jendela kelasku,
sepenggal kepalamu terlihat berjalan berlalu menuju kelas di ujung gedung itu.
Kita seketika jadi dua
kepala manusia yang saling memperhatikan, tidakkah sedikit berlebihan? kurasa
tidak. Yap, kita semakin intens dalam berinteraksi, walau kurasa hanya lewat
kata, tanpa tatapan muka atau obrolan nyata, hadirmu cukup menyejukkan. Tiap
hari pagi, petang, dan malam selalu kunanti deringtanda pesan dalam handphone
ku berbunyi, tentunya tak lain hanya darimu.
Aku yang saat itu tak
punyai alasan untuk mengelak atau mencengah seseorang sepertimu mengisi segala
kekosongan hariku, tak pernah ada alasan. Kamu hadir begitu saja, ajaibnya kamu
yang dalam singkat kukenal bisa sedemikian rupa membuatku lupa akan luka, membuatku
bangkit dari sakit, dan buatku berpaling dari masa lalu yang ternyata terus
membelenggu.
Pesan singkatmu tak bisa
dibilang manis dan tak juga puitis tapi entah mengapa dapat menghipnotis.
Menghipnotisku untuk selalu merindu singkatnya pesanmu, kakunya senyummu, dan
dinginnya tatapanmu, sungguh kurindu. Tak cukup sampai disitu dilain tempat,
lain kesempatan kamu pun dapat mencuri perhatianku, lewat akun aktif twittermu
aku selalu memperhatikanmu, semacam seorang fans yang kerap memantau kegiatan
serta aktivitasmu.
KAMU, Pria penyuka club
sepak bola berliga inggris dan bisa dibilang fans fanatic sejati club yang
selalu kamu seru serukan dalam akun twittermu “blues’blues’dan blues”. Sudah
tak perlu diperjelas lagi, semua orangpun pasti sudah tau julukan itu. Mungkin
hanya akulah satu satunya manusia yang baru mengetahui adanya club tersebut, Ya
entahlah, aku memang wanita yang bisa dibilang tak mengerti tentang dunia sepak
bola, jangankan Negara seberang sana Negara tanah airku tercinta pun, aku hanya
tau sebagian.
Baik, catatan berikutnya
KAMU seorang pria yang bisa kusebut “Freakly Boy” pada saat itu mungkin karena
usia kita baru dikategorikan menginjak dewasa tak ada yang terlalu salah dengan
sebutan itu. Awal perkenalan kita tak kusebutkan kamu memasuki karakter
golongan apa atau species manusia macam apa, Haha. Aku pun tak mengerti kamu
sesosok pria semacam apa.
Kamu pria yang terlihat
serius pada kalanya, cuek pada kadarnya, konyol pada takarannya, tapi satu
waktu jadi pria penggombal pada umumnnya namun dengan khasmu yang tetap
terlihat cool, “sok cool” mungkin lebih tepatnya, Haha. Tentunya tak ada wanita
yang tak senang diperlakukan dengan istimewa, entah akupun tak tau aku wanita
keberapa, aku tak memperdulikannya.Bahkan patutnya aku tak terlalu
menggangapnya special, kita hanya baru sebatas mengenal.
Faktanya dalam pertemuan
nyatannya kita seperti duapasang mata yang terasing, mengatung dalam diam
menggantung dalam tatap dan berakhir dengan sebuah senyum tipis medatar melesat
lewat begitu saja.Namun dalam keramaian aku mematung beku dan kamu membisu kaku.Entah
benarkah adanya pendeskripsianku, kebisingan hanya dapat kupandang rancu.
Gemingan apa yang terjadi didalamnya, mana tahu.
Tiap kali bertemu kita
layaknya dua orang yang tak saling mengenal, namun dalam maya kita seringkali
bercengkrama.Tiap siang, sepulang sekolah aku yang menuju rumah mengendarai
kendaraan umum pun disela sela perjalanan atau sesampainnya dirumah selalu
mengecek ponselku untuk sekedar tahu apakah ada satu pesanmu muncul disana. Dan
benar “Woy” kadang sesingkat itulah pesanmu menyapa, dan aku hanya tertawa,
ternyata aku suka.
Satu kata tak bermakna
seperti itu pun, dapat buatku selalu menunggunya? Haha, aku pun tak tau kenapa aku
begitu menanti komunikasi terjadi antara kita.Kita lalu bercengkrama
menghabiskan siang dan malam dengan saling bertukar pesan, tak jarang keakraban
layaknya sahabat dekat terjadi didalamnnya.Gelak canda tawa sedikit menghiasi
pembicaraan kita.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar